Kamis, 10 November 2016

KONSERVASI KAWASAN TAMAN NASIONAL SUNGAI BATANG

KONSERVASI KAWASAN TAMAN NASIONAL
 SUNGAI BATANG




OLEH :



NURHIDAYAH ASUTION
130302032
Manajemen Sumberdaya Perairan







Description: F:\Kuliah\Project PKM\logo_usu_untuk_semua_png.png















LABORATORIUM BUDIDAYA PERAIRAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016





KONSERVASI KAWASAN TAMAN NASIONAL
 SUNGAI BATANG


Kabupaten Mandailing Natal terletak pada 0°10′-1°50′ Lintang Utara dan 98°10′-100°10′ Bujur Timur dengan rentang ketinggian 0-2.145 m di atas permukaan laut. Dengan Aliran Sungai yang sangat besar dan masih sangat bagus untuk dijadikan sesuai dengan fungsi ekologis bagi ikan air tawar.
Lapisan air menduduki 2/3 dari luas keseluruhan bumi kita ini, sedangkan sisanya berupa daratan. Pada dasarnya jumlah air yang terdapat di bumi kita tidak pernah habis, dan air mengalami daur (siklus) yang tiada henti-hentinya berlangsung secara periodik yang siklusnya dipengaruhi oleh sinar matahari, angin, tanaman, pegunungan dll.
Aliran sungai sebagai sumber kehidupan dan media untuk mensucikan, telah menampatkannya dalam urutan teratas unsur alam yang paling mempengaruhi jalannya perkembangan peradaban manusia. Tidak mengherankan apabila banyak ditemukan bangunan suci dan perbentengan kuno berdekatan dengan aliran sungai.
“ Air memegang peran penting di dalam kehidupan manusia dan juga makhluk hidup lainnya.Air sungai banyak dimanfaatkan manusia untuk keperluaan salah satu kebutuhan untuk minum, memasak, mencuci, mandi, mengairi sawah, ladang, pembangkit listrik, irigasi dan industri. Sungai juga bermanfaat bagi biota air yaitu sebagaihabitat mahluk hidup ikan, benthos, udang dan biota lainnya”.

 Kawasan Taman Nasional Sungai Batang Gadis
             Sungai merupakan suatu ekosistem perairan mengalir yang memiliki arus relatif besar yang pergerakan alirannya satu arah (unidireksional). Daerah aliran sungai ditinjau dari segi ekologis berkaitan erat dengan keadaan geomorfologi, fisiologi, iklim, flora, fauna, tata guna lahan dan aktivitas manusia.
“Sungai Batang Gadis” adalah Sungai terpanjang di Kabupaten Mandailing Natal, dari Hulu Pakantan Muara sipongi melewati Kotanopan,Panyabungan,Siabu dan bermuara di Muara Batang Gadis, Mandailing Natal yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Batang Gadis Sungai Batang Gadis berkontribusi banyak bagi perekonomian masyarakat Daerah Aliran Sungai(DAS) sebagai Irigasi, Pembangkit Listirik, Pemeliharaan Ikan, Kebutuhan sehari-hari dsb. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis adalah 369.963,95 Ha.
Sungai Batang Gadis merupakan sungai utama terpanjang dan terbesar di kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Panjang aliran sungainya menjelajahi hampir seluruh kabupaten madina, mulai dari hulu di Ulu Pakantan Muara Sipongi melewati beberapa kecamatan sampai akhirnya bermuara di Kecamatan Batang Gadis. Sungaoi ini menjadi jantung perekonomian masyarakat Madina karena menjadi sumber pengairan tanah pertanian masyarakat. Tidak heran jika masyarakat sangat menjaga keasrian sungai ini yang oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Sungai Batang Gadis.
Batang gadis sendiri di mandailing natal sudah dijadikan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) adalah sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, terletak di 99° 12’ 45″ BT sampai dengan 99° 47’ 10″ dan 0° 27’ 15″ sampai dengan 1° 01’ 57″ LU. Nama taman nasional ini berasal dari dari nama sungai utama yang mengalir dan membelah Kabupaten Madina, Sungai Batang Gadis.
Pembentukan TNBG dapat diartikan pula sebagai pengakuan negara dan penguatan terhadap tradisi lokal masyarakat Mandating Natal yang telah menjaga hutan alam dan sumber air nya selama ini. Pembentukan kawasan konservasi baru di Provinsi Sumatera Utara semakin penting mengingat degradasi laju kerusakan perairan dalam situasi memprihatinkan, karena terjadi permasalahan pemanfaatan sumberdayanya.
Melalui SK No 126/Menhut-II/2004 Menteri Kehutanan, TNBG disahkan sebagai Taman Nasional. TNBG terdiri dari dari kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap. Dimana kawasan konservasi ini untuk sungai juga dapat dijalankan pada kawasan tersebut.

Konservasi daerah pengaliran sungai
Konservasi ini dilakukan karena maraknya eksploitasi sumberdaya alam tanah, hutan, dan air. Dampaknya akan mengubah tata air seperti banjir, kekeringan, serta meningkatnya laju erosi dan sedimentasi. Teknologi yang dilakukan dalam konservasi ini yaitu metode Vegetatif dan metode Teknik Sipil.
Metode vegetatif “ yaitu menggunakan tanaman untuk mengurangi daya perusak hujan yang jatuh, sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Yang termasuk dalam metode ini yaitu reboisasi yaitu penanaman pohon di kawasan hutan dan luar hutang dengan menggunakan tanaman tahunan”.

Metode sipil “ yaitu pembuatan bangunan sipil untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kegunaan tanah, serta memperbesar infiltrasi air kedalam tanah. Yang termasuk dalam metode ini yaitu : bendungan pengendali, waduk, tanggul, teras, pembuatan irigasi pada daerah pertanian, guludan, dll.”
Kawasan Perairan batang gadis ini juga menjadi lahan pertanian yang subur serta menjadi sumber resapan air. Pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola,  membentuk  kawasan  rawa yang sangat luas. Karena itu juga menjadi sumber ikan rawa yang khas. Tak banyak yang tahu bahwa suplai ikan sungai untuk wilayah Siabu, Panyabungan, dan Padang sidimpuan, berasal dari kawasan ini.
Berbagai jenis ikan rawa mudah ditemukan di sini, misalnya nama daerah dengan jenis ikan  Aruting, Tingkalang, Limbat, Inggit-inggit, Tawes, Capet dan Tunggu Lubuk. Kadang-kadang ada juga ikan air tawar yang berasal dari ekosistem sungai, misalnya Ikan Mas,  Siruan, Aporas, dan Sulum, ikan cencen (Mystacoleucus marginatus). Ikan jenis ini diduga berasal dari kedua sungai besar tadi.  Kawasan ini, karena sedemikian pentingnya, ada di peta kolonial. Tapi tentu tak ada di peta daerah Mandailing Natal.       
Tetapi bersamaan dengan datangnya banjir, beberapa ikan melimpah dari kedua sungai. Dan saat banjir kering, petani ikan akan membawa tangkapan yang banyak.  Perahu nelayan rawa ini akan berseliweran menyusuri celah-celah rawa yang sempit sambil membawa alat penangkap ikan yang berbagai rupa: jaring, keramba, lobu-lobu, dan sebagainya.
Hasil panen oleh masyarakat Ikan aruting / Ikan Lele (Clarias sp.) misalnya ada yang sampai seberat 5 – 10 kilogram per ekor. Ikan tangkapan ini yang dijual di desa-desa sekitar Kecamatan Siabu setiap pagi dan sore, atau oleh pedagang tertentu dijual  di  pasar  Panyabungan hingga Padangsidimpuan.

Konservasi Arsitektur
Dalam arsitektur konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna budayanya tetap terpelihara. Ini meliputi pemeliharaan dan sesuai dengan keadaan yang meliputi Preservasi, Restorasi, Rekonstruksi dan Adaptasi.

Konservasi Bangunan Dan Kawasan
Konservasi bangunan dan kawasan berawal dari konsep konservasi yang bersifat statis, yaitu bangunan yang menjadi objek konservasi dipertahankan sesuai dengan kondisi aslinya. Dengan konsep yang statis tersebut kemudian berkembang menjadi konsep konservasi yang bersifat dinamis dengan cakupan lebih luas. Sasaran konservasi tidak hanya pada peninggalan arkeologi saja, melainkan meliputi juga karya arsitektur lingkungan atau kawasan bahkan kota bersejarah.
Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja. Konservasi selanjutnya merupakan istilah yang menjadi payung dari segenap kegiatan pelestarian lingkungan binaan, yang meliputi preservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, dan revitalisasi.

Mengapa Perlu Kawasan Konservasi Perairan Sungai Batang Gadis
            Dalam Studi kasus yang pernah terjadi di perairan sungai batang gadis Huta pungkut, Hutabargot, dengan pengambilan conth air dan ikan pada rentang waktu 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kandungan logam berat Merkuri (Hg) pada air sungai dan daging ikan setiap stasiun pengamatan. Kandungan merkuri (Hg) lebih tinggi terdapat pada daging ikan kemudian terendah terdapat pada air.
“Kandungan logam berat Merkuri (Hg) tertinggi pada daging ikan rata-rata (0,00128-0,01097 ppm) dan pada air sungai sekitar (0,00015-0,00043 ppm). Kandungan Merkuri (Hg) yang terdapat pada air sungai dan daging ikan masih dibawah ambang baku mutu. Rata-rata kemampuan ikan mengakumulasi merkuri dalam tubuhnya.menurut Van Esch (1977) BCF < 100 menunjukkan daya akumulasi ikan terhadap air rendah yaitu stasiun 1 (25,51), stasiun 2 (12,88) dan stasiun 3 (14,53). Hal ini menunjukkan bahwa ikan cencen yang berada di Sungai Batang Gadis terakumulasi Merkuri (Hg). Hasil pengamatan histologi insang pada semua stasiun menunjukkan adanya edema, fusi lamella, nekrosis dan mineralisasi.
Dimana pengertian “Merkuri (Hg) merupakan salah satu bahan pencemar berbahaya karena bersifat toksik jika terakumulasi dalam jaringan makhluk hidup dan sulit terdegradasi dalam lingkungan. Merkuri (Hg) dapat mencemari lingkungan perairan sungai berasal dari limbah galundung ke wilayah perairan tanpa pengelolahan atau penanganan limbah terlebih dahulu”.
            Hal ini akan sangat berbahaya pada ekosistem sungai batang gadis sendiri dan kesehatan pada manusia apabila dikonsumsi oleh masyarakat sekitar.  Sungai Batang Gadis berperan penting sebagai sumberdaya air baik secara ekologi, hidrologi dan ekonomi.Sungai Batang Gadis berfungsi sebagai habitat berbagai organisme air, sebagai sumber air minum bagi masyarakat sekitar, sebagai tempat penangkapan ikan, kegiatan transportasi, menunjang aktivitas pertambangan emas.
 proses amalgamasi yaitu proses pengikatan logam emas dari bijih tersebut dengan menggunakan merkuri dalam tabung yang disebut sebagai gelundung. Galundung tersebut dapat diputar dengan tenaga penggerak air sungai melalui kincir atau tenaga listrik.
            Limbah yang dihasilkan pada pertambangan emas biasanya mengandung bahan kimia beracun (toksik). Pada proses pertambangan, merkuri digunakan untuk mengikat emas. Masuknya logam berat merkuri (Hg) pada Sungai Batang Gadis yang dapat terakumulasi pada jaringan ikan cencen (Mystacoleucus marginatus). Ikan menyerap merkuri melalui makanannya dan langsung dari air dengan melewati insang.
Sungai Batang Gadis sebagai suatu habitat hidup berbagai organisme termasuk ikan Garing (Tor tambra) yang keberadaannya mulai berkurang karena adanya kegiatan penangkapan dan aktivitas lainnya di daerah tersebut.

Dalam upaya menjaga kelestarian populasi ikan Garing (Tor tambra) di sungai Batang Gadis maka perlu adanya informasi dasar tentang kebiasaan makan ikan dan kualitas lingkungannya.
            Semakin maraknya kegiatan penambangan emas ini mengkhawatirkan terhadap kehidupan biota di Sungai Batang Gadis terutama ikan Garing. Pencemaran yang paling menghawatirkan saat ini adalah aktivitas penambangan yang semakin marak di sungai Batang Gadis yang menggunakan mesin dan bahan bakar solar yang langsung di buang ke Sungai. Bahan pencemar yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami proses perubahan fisik, kimia dan biologis yang mengakibatkan kualitas air terganggu.
Tujuan dari pelaksanaan konservasi ini adalah untuk mendapatkan solusi optimal yang dapat menjamin berkelanjutan fungsi kawasan DAS dan Sungai Batang Gadis yaitu diantaranya adalah :
1.    Merencanakan suatu perencanaan perbaikan tanah dan sungai.
2.    Menganalisis erosi yang mungkin terjadi sebagai potensi sedimen yang
     Berdampak pada pendangkalan.
3.    Perencanaan konservasi di masa mendatang, untuk tujuan pelestarian
     wilayah catchment area.
4.    Perencanaan struktur bangunan yang akan dipakai dalam perencanaan
     bangunan pengaman sungai.
5.   Perencanaan penanggulangan potensi Daya Rusak  Aspek Kualitas Air
6.    Menyajikan profil masyarakat di sekitar wilayah DAS
7.    Mengetahui kondisi potensi sumber daya air di wilayah DAS
8.    Mengetahui potensi lahan sebagai pengembangan kawasan Konservasi dan
     wisata
Perlu adanya inventarisasi jenis ikan yang ada di sungai Batang Gadis dan peran serta pemerintah daerah dalam upaya konservasi perikanan untuk menjaga potensi perikanan secara menyeluruh.



DAFTAR PUSTAKA

 Adzri, Q. N.,  Pindi, P  dan Ani, S. 2015. Kebiasaan Makan Ikan Garing (Tor Tambra) Di Sungai  Batang Gadis Kabupaten Manda,  Universitas Sumatera Utara, Medan.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintahan Kabupaten Blitar. 2015. Kajian Perencanaan Konservasi daerah Aliran Sungai Brantas.  Blitar.

Hidayati, N., Yunasfi dan Riri, E. 2015. Efek Aktivitas Masyarakat Terhadap Kelimpahan Ikan Garing  (Tor tambra) di Sungai Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara, Medan.






Latifa, S. D . 2014. Kandungan Logam Berat Merkuri (Hg) Pada Ikan Cencen  (Mystacoleucus Marginatus) Di Sungai Batang Gadis  Kabupatenmandailing Natal. Program Studi Manajemen Sumbedaya Perairan Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.


Mauliani, L., Nurhidayah dan Fika, M. 2012.  Kajian Konservasi Kawasan Bantaran Sungai Studi Kasus: Boat Quay Singapura dan Sungai Ciliwung Jakarta. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta