KONSERVASI KAWASAN TAMAN NASIONAL
SUNGAI BATANG
OLEH :
NURHIDAYAH ASUTION
130302032
Manajemen Sumberdaya Perairan
LABORATORIUM
BUDIDAYA PERAIRAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2016
KONSERVASI KAWASAN TAMAN NASIONAL
SUNGAI BATANG
Kabupaten Mandailing Natal terletak pada 0°10′-1°50′ Lintang Utara dan
98°10′-100°10′ Bujur Timur dengan rentang ketinggian 0-2.145 m di atas
permukaan laut. Dengan Aliran Sungai yang sangat besar dan masih sangat bagus
untuk dijadikan sesuai dengan fungsi ekologis bagi ikan air tawar.
Lapisan air menduduki 2/3 dari luas keseluruhan bumi kita ini, sedangkan
sisanya berupa daratan. Pada dasarnya jumlah air yang terdapat di bumi kita
tidak pernah habis, dan air mengalami daur (siklus) yang tiada henti-hentinya
berlangsung secara periodik yang siklusnya dipengaruhi oleh sinar matahari,
angin, tanaman, pegunungan dll.
Aliran sungai sebagai sumber kehidupan dan media untuk mensucikan, telah
menampatkannya dalam urutan teratas unsur alam yang paling mempengaruhi
jalannya perkembangan peradaban manusia. Tidak mengherankan apabila banyak
ditemukan bangunan suci dan perbentengan kuno berdekatan dengan aliran sungai.
“ Air memegang peran penting di dalam kehidupan manusia dan juga makhluk
hidup lainnya.Air sungai banyak dimanfaatkan manusia untuk keperluaan salah
satu kebutuhan untuk minum, memasak, mencuci, mandi, mengairi sawah, ladang,
pembangkit listrik, irigasi dan industri. Sungai juga bermanfaat bagi biota air
yaitu sebagaihabitat mahluk hidup ikan, benthos, udang dan biota lainnya”.
Kawasan Taman
Nasional Sungai
Batang Gadis
Sungai merupakan suatu ekosistem perairan
mengalir yang memiliki arus relatif besar yang pergerakan alirannya satu arah (unidireksional).
Daerah aliran sungai ditinjau dari segi ekologis berkaitan erat dengan keadaan
geomorfologi, fisiologi, iklim, flora, fauna, tata guna lahan dan aktivitas
manusia.
“Sungai
Batang Gadis” adalah
Sungai terpanjang di Kabupaten Mandailing Natal, dari Hulu Pakantan Muara
sipongi melewati Kotanopan,Panyabungan,Siabu dan bermuara di Muara Batang Gadis, Mandailing
Natal yang juga
merupakan bagian dari Taman Nasional Batang Gadis Sungai Batang Gadis berkontribusi
banyak bagi perekonomian masyarakat Daerah Aliran Sungai(DAS) sebagai Irigasi, Pembangkit Listirik, Pemeliharaan Ikan, Kebutuhan
sehari-hari dsb. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis adalah 369.963,95
Ha.
Sungai Batang Gadis merupakan sungai utama terpanjang dan terbesar di
kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Panjang aliran sungainya
menjelajahi hampir seluruh kabupaten madina, mulai dari hulu di Ulu Pakantan
Muara Sipongi melewati beberapa kecamatan sampai akhirnya bermuara di Kecamatan
Batang Gadis. Sungaoi ini menjadi jantung perekonomian masyarakat Madina karena
menjadi sumber pengairan tanah pertanian masyarakat. Tidak heran jika
masyarakat sangat menjaga keasrian sungai ini yang oleh pemerintah telah
ditetapkan sebagai Taman Nasional Sungai Batang Gadis.
Batang gadis sendiri di mandailing natal sudah dijadikan Taman Nasional
Batang Gadis (TNBG) adalah sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal
(Madina), Sumatera Utara, terletak di 99° 12’ 45″ BT sampai dengan 99° 47’ 10″
dan 0° 27’ 15″ sampai dengan 1° 01’ 57″ LU. Nama taman nasional ini berasal
dari dari nama sungai utama yang mengalir dan membelah Kabupaten Madina, Sungai
Batang Gadis.
Pembentukan TNBG dapat diartikan pula sebagai pengakuan negara dan
penguatan terhadap tradisi lokal masyarakat Mandating Natal yang telah menjaga
hutan alam dan sumber air nya selama ini. Pembentukan kawasan konservasi baru
di Provinsi Sumatera Utara semakin penting mengingat degradasi laju kerusakan perairan
dalam situasi memprihatinkan, karena terjadi permasalahan pemanfaatan
sumberdayanya.
Melalui SK No 126/Menhut-II/2004 Menteri Kehutanan, TNBG disahkan
sebagai Taman Nasional. TNBG terdiri dari dari kawasan hutan lindung, hutan
produksi terbatas, dan hutan produksi tetap. Dimana kawasan konservasi ini
untuk sungai juga dapat dijalankan pada kawasan tersebut.
Konservasi
daerah pengaliran sungai
Konservasi ini dilakukan karena maraknya eksploitasi sumberdaya alam
tanah, hutan, dan air. Dampaknya akan mengubah tata air seperti banjir,
kekeringan, serta meningkatnya laju erosi dan sedimentasi. Teknologi yang dilakukan
dalam konservasi ini yaitu metode Vegetatif dan metode Teknik Sipil.
Metode vegetatif “ yaitu menggunakan tanaman untuk mengurangi daya perusak
hujan yang jatuh, sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Yang termasuk
dalam metode ini yaitu reboisasi yaitu penanaman pohon di kawasan hutan dan
luar hutang dengan menggunakan tanaman tahunan”.
Metode sipil “ yaitu pembuatan bangunan sipil untuk mengurangi aliran permukaan dan
erosi, dan meningkatkan kegunaan tanah, serta memperbesar infiltrasi air kedalam
tanah. Yang termasuk dalam metode ini yaitu : bendungan pengendali, waduk,
tanggul, teras, pembuatan irigasi pada daerah pertanian, guludan, dll.”
Kawasan Perairan batang gadis ini juga menjadi lahan pertanian yang
subur serta menjadi sumber resapan air. Pertemuan dua sungai besar, yakni
Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola, membentuk
kawasan rawa yang sangat luas. Karena itu juga menjadi sumber ikan rawa
yang khas. Tak banyak yang tahu bahwa suplai ikan sungai untuk wilayah Siabu,
Panyabungan, dan Padang sidimpuan, berasal dari kawasan ini.
Berbagai jenis ikan rawa mudah ditemukan di sini, misalnya nama daerah
dengan jenis ikan Aruting, Tingkalang,
Limbat, Inggit-inggit, Tawes, Capet dan Tunggu Lubuk. Kadang-kadang ada juga
ikan air tawar yang berasal dari ekosistem sungai, misalnya Ikan Mas,
Siruan, Aporas, dan Sulum, ikan cencen (Mystacoleucus marginatus). Ikan
jenis ini diduga berasal dari kedua sungai besar tadi. Kawasan ini,
karena sedemikian pentingnya, ada di peta kolonial. Tapi tentu tak ada di peta
daerah Mandailing Natal.
Tetapi bersamaan dengan datangnya banjir, beberapa ikan melimpah dari
kedua sungai. Dan saat banjir kering, petani ikan akan membawa tangkapan yang
banyak. Perahu nelayan rawa ini akan berseliweran menyusuri celah-celah
rawa yang sempit sambil membawa alat penangkap ikan yang berbagai rupa: jaring,
keramba, lobu-lobu, dan sebagainya.
Hasil panen oleh masyarakat Ikan aruting / Ikan Lele (Clarias sp.) misalnya
ada yang sampai seberat 5 – 10 kilogram per ekor. Ikan tangkapan ini yang
dijual di desa-desa sekitar Kecamatan Siabu setiap pagi dan sore, atau oleh
pedagang tertentu dijual di pasar Panyabungan hingga
Padangsidimpuan.
Konservasi Arsitektur
Dalam
arsitektur konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna
budayanya tetap terpelihara. Ini meliputi pemeliharaan dan sesuai dengan
keadaan yang meliputi Preservasi, Restorasi, Rekonstruksi dan Adaptasi.
Konservasi
Bangunan Dan Kawasan
Konservasi
bangunan dan kawasan berawal dari konsep konservasi yang bersifat statis, yaitu
bangunan yang menjadi objek konservasi dipertahankan sesuai dengan kondisi
aslinya. Dengan konsep yang statis tersebut kemudian berkembang menjadi konsep
konservasi yang bersifat dinamis dengan cakupan lebih luas. Sasaran konservasi
tidak hanya pada peninggalan arkeologi saja, melainkan meliputi juga karya
arsitektur lingkungan atau kawasan bahkan kota bersejarah.
Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan
kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih
lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian
kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau
pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja. Konservasi
selanjutnya merupakan istilah yang menjadi payung dari segenap kegiatan
pelestarian lingkungan binaan, yang meliputi preservasi, restorasi,
rehabilitasi, rekonstruksi, dan revitalisasi.
Mengapa Perlu Kawasan Konservasi Perairan
Sungai Batang Gadis
Dalam Studi kasus yang pernah terjadi di
perairan sungai batang gadis Huta pungkut, Hutabargot, dengan pengambilan conth
air dan ikan pada rentang waktu 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya
perbedaan kandungan logam berat Merkuri (Hg) pada air sungai dan daging ikan
setiap stasiun pengamatan. Kandungan merkuri (Hg) lebih tinggi terdapat pada
daging ikan kemudian terendah terdapat pada air.
“Kandungan
logam berat Merkuri (Hg) tertinggi pada daging ikan rata-rata (0,00128-0,01097
ppm) dan pada air sungai sekitar (0,00015-0,00043 ppm). Kandungan Merkuri (Hg)
yang terdapat pada air sungai dan daging ikan masih dibawah ambang baku mutu.
Rata-rata kemampuan ikan mengakumulasi merkuri dalam tubuhnya.menurut Van Esch
(1977) BCF < 100 menunjukkan daya akumulasi ikan terhadap air rendah yaitu
stasiun 1 (25,51), stasiun 2 (12,88) dan stasiun 3 (14,53). Hal ini menunjukkan
bahwa ikan cencen yang berada di Sungai Batang Gadis terakumulasi Merkuri (Hg).
Hasil pengamatan histologi insang pada semua stasiun menunjukkan adanya edema,
fusi lamella, nekrosis dan mineralisasi.
Dimana pengertian “Merkuri (Hg) merupakan salah satu bahan pencemar
berbahaya karena bersifat toksik jika terakumulasi dalam jaringan makhluk hidup
dan sulit terdegradasi dalam lingkungan. Merkuri (Hg) dapat mencemari
lingkungan perairan sungai berasal dari limbah galundung ke wilayah perairan
tanpa pengelolahan atau penanganan limbah terlebih dahulu”.
Hal ini akan sangat berbahaya pada
ekosistem sungai batang gadis sendiri dan kesehatan pada manusia apabila
dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Sungai Batang Gadis berperan penting sebagai
sumberdaya air baik secara ekologi, hidrologi dan ekonomi.Sungai Batang Gadis
berfungsi sebagai habitat berbagai organisme air, sebagai sumber air minum bagi
masyarakat sekitar, sebagai tempat penangkapan ikan, kegiatan transportasi,
menunjang aktivitas pertambangan emas.
proses amalgamasi yaitu proses pengikatan
logam emas dari bijih tersebut dengan menggunakan merkuri dalam tabung yang
disebut sebagai gelundung. Galundung tersebut dapat diputar dengan tenaga
penggerak air sungai melalui kincir atau tenaga listrik.
Limbah yang dihasilkan pada
pertambangan emas biasanya mengandung bahan kimia beracun (toksik). Pada proses
pertambangan, merkuri digunakan untuk mengikat emas. Masuknya logam berat
merkuri (Hg) pada Sungai Batang Gadis yang dapat terakumulasi pada jaringan
ikan cencen (Mystacoleucus marginatus). Ikan menyerap merkuri melalui
makanannya dan langsung dari air dengan melewati insang.
Sungai Batang Gadis sebagai suatu habitat hidup berbagai organisme
termasuk ikan Garing (Tor tambra) yang keberadaannya mulai berkurang
karena adanya kegiatan penangkapan dan aktivitas lainnya di daerah tersebut.
Dalam
upaya menjaga kelestarian populasi ikan Garing (Tor tambra) di sungai
Batang Gadis maka perlu adanya informasi dasar tentang kebiasaan makan ikan dan
kualitas lingkungannya.
Semakin maraknya kegiatan penambangan
emas ini mengkhawatirkan terhadap kehidupan biota di Sungai Batang Gadis
terutama ikan Garing. Pencemaran yang paling menghawatirkan saat ini adalah
aktivitas penambangan yang semakin marak di sungai Batang Gadis yang
menggunakan mesin dan bahan bakar solar yang langsung di buang ke Sungai. Bahan
pencemar yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami proses
perubahan fisik, kimia dan biologis yang mengakibatkan kualitas air terganggu.
Tujuan dari pelaksanaan konservasi ini adalah untuk mendapatkan solusi
optimal yang dapat menjamin berkelanjutan fungsi kawasan DAS dan Sungai Batang
Gadis yaitu diantaranya adalah :
1.
Merencanakan
suatu perencanaan perbaikan tanah dan sungai.
2.
Menganalisis
erosi yang mungkin terjadi sebagai potensi sedimen yang
Berdampak pada pendangkalan.
3.
Perencanaan
konservasi di masa mendatang, untuk tujuan pelestarian
wilayah catchment area.
4.
Perencanaan
struktur bangunan yang akan dipakai dalam perencanaan
bangunan pengaman sungai.
5. Perencanaan
penanggulangan potensi Daya Rusak Aspek Kualitas Air
6.
Menyajikan
profil masyarakat di sekitar wilayah DAS
7.
Mengetahui
kondisi potensi sumber daya air di wilayah DAS
8.
Mengetahui
potensi lahan sebagai pengembangan kawasan Konservasi dan
wisata
Perlu adanya inventarisasi jenis ikan yang ada di sungai Batang Gadis
dan peran serta pemerintah daerah dalam upaya konservasi perikanan untuk
menjaga potensi perikanan secara menyeluruh.
DAFTAR PUSTAKA
Adzri, Q. N.,
Pindi, P dan Ani, S. 2015. Kebiasaan Makan Ikan Garing (Tor Tambra)
Di Sungai Batang Gadis Kabupaten Manda, Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintahan Kabupaten Blitar. 2015. Kajian
Perencanaan Konservasi daerah Aliran Sungai Brantas. Blitar.
Hidayati,
N., Yunasfi dan Riri, E. 2015. Efek
Aktivitas Masyarakat Terhadap Kelimpahan Ikan Garing (Tor
tambra) di Sungai Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara,
Medan.
Latifa, S. D . 2014. Kandungan Logam Berat
Merkuri (Hg) Pada Ikan Cencen (Mystacoleucus
Marginatus) Di Sungai Batang Gadis Kabupatenmandailing
Natal. Program Studi Manajemen
Sumbedaya Perairan Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Mauliani,
L., Nurhidayah dan Fika, M. 2012. Kajian Konservasi Kawasan Bantaran Sungai
Studi Kasus: Boat Quay Singapura dan Sungai Ciliwung Jakarta. Universitas
Muhammadiyah Jakarta. Jakarta
